Aku adalah perempuan yang tidak begitu menyukai hujan saat kecil. Petir, banjir, dan atap yang bocor merupakan alasan mengapa. Dulu, sering sekali listrik mati ketika hujan turun dengan derasnya. Hujan deras identik dengan langit gelap, dan itu membuatku takut karena bapak dan ibu adalah pekerja yang tidak pernah di rumah sebelum maghrib datang.
Dan perasaanku berubah, aku terbebas dari status "anak sekolah". Dan seorang lelaki datang ke rumahku, saat itu hujan turun. Saat itu aku belum sepenuhnya terbebas dari rasa takut merasakan hujan sendirian. Kedatangan lelaki itu kusambut dengan hangat. Kusuguhkan teh hangat dan sedikit kudapan untuk menyelamatkannya dari rasa dingin. Aku agak hepi karena hujan kali itu aku tidak sendirian, aku ditemani oleh lelaki yang tidak kuketahui datang dari mana. Yang kuketahui saat itu hanyalah dia manis. Dan menyenangkan sekali melihat dia lahap menyantap apa yang kuhidangkan. Waktu itu bapak dan ibuku belum pulang karena memang bukan jadwal mereka pulang, mereka pulang setiap akhir pekan, mereka kerja di luar kota.
Selepas dia menyeruput tegukan teh terakhirnya, dia membuka percakapan yang agak panjang. Dibuka dengan pertanyaan "apa kabar?". Pertanyaan yang layaknya dilontarkan oleh dua orang yang sudah lama tidak bertemu. Kutegaskan lagi, sudah lama tidak bertemu, bukan baru bertemu. Sebab aku tidak menemukan wajah lelaki ini di laci laci ingatanku.
Seperti mengerti bahwa aku sedang kebingungan, kemudian dia menjelaskan bahwa dia adalah lelaki yang batal masuk ke dalam masa laluku. Hahaha, aku sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud 'batal masuk ke dalam masa lalu'. Jawaban yang sama sekali tidak menghilangkan kebingungan, justru menambah kadar kebingunganku.
Saat itu aku tidak terlalu peduli sebenarnya siapa dia. Nalarku sudah terhalangi oleh sikap manisnya. Dia selalu tersenyum setiap berbicara, senyum manis yang meluluhkan hatiku, yang membuatku lupa bahwa di luar rumah hujan sedang turun deras sekali.
Aku ingat sekali, di sela adzan maghrib berkumandang, dia berkata lirih, "maafkan aku yang baru datang sekarang". Aku yang sedang mendunduk khidmat mendengarkan adzan, sontak mendongak dan menatap matanya lamat-lamat (tidak pernah aku seberani ini menatap mata orang lain). Kemudian "deppp", lampu padam dibarengi oleh suara gemuruh guntur. Cepat-cepat kuambil mukenah dan payung di sudut ruangan kemudian bergegas ke surau samping rumah. "Aku mau ke surau dulu, jamaah maghrib. Kau mau ikut? Aku mau mengunci pintu ini." Kutunggu dia menjawab, tapi hingga hitungan ke sepuluh tidak ada sahutan, saat itu tiba-tiba lampu menyala lagi, dan betapa terkejutnya aku, lelaki itu telah menghilang.
Komentar
Posting Komentar