Seseorang pernah menetap dalam hidupku, tidak lama,
tapi setiap harinya ia tumbuhkan perasaan aneh dalam dadaku. Dadaku semakin
dibuatnya sesak setiap hari mendengarkan keluh kesahnya tentang rindu. Aku tak
peduli. Aku tidak merindukannya balik. Karena kupikir dia memang penjual kata,
mengucap kata manis di sana sini. Menjualnya dengan harapan mendapat perhatian
perempuan. Tapi aku tidak. Aku bisa juga menjadi penjual kata, dan memang
sedang kulakukan, tapi tidak padanya. Aku sama sekali tidak tertarik dengan
pembual seperti dia. Dia memang manis, kuakui. Berjalan beberapa minggu, dia datang
ke rumahku, dan untuk pertama kalinya aku menatap matanya yang tajam tapi
memandangku begitu lembut. Tidak hanya satu jam, berjam-jam dia duduk di
hadapanku, menceritakan apa pun yang tidak kuketahui sebelumnya. Sesekali dia
tertawa, renyah sekali. Aku hanya diam, menjadi pendengarnya, dan ikut tertawa
saat dia tertawa. Ketika dia merasa lelah meracau, dia diam sejenak, lalu
menyuruhku bercerita,
“tentang apa?”
“apa saja.”
“aku tidak punya cerita menarik.”
“apakah cerita-ceritaku tadi menarik?”
“ya, tentu.”
Entah mengapa, tiba-tiba darahku berdesir cepat
sekali, kurasakan hangat dalam seluruh tubuhku. Dalam hatiku aku menjawab bahwa
ceritanya tadi sangat lucu, dan aku tidak ingin dia menghentikan ceritanya.
“kau saja, lanjutkan ceritamu, aku menyukainya,”
“baiklah, dengarkan baik-baik, ya. Tapi, aku haus.”
Dengan itu aku beranjak menuju dapur dan membawakan
segelas air putih untuknya. Setelah meneguknya sampai habis, dia berterima
kasih padaku, kemudian mulai menceritakan tentang bagaimana bulan di langit
bisa sangat terang, tentang siapa gadis kecil yang selalu menyuruh ibunya
mengambilkan bulan untuk menerangi tidurnya yang lelap, tentang pelangi dan
kepercayaan orang dulu mengenainya serta keinginannya duduk di beranda rumah
yang dilintasi pelangi. Semua itu diceritakannya dengan amat manis, tak tahu
lagi, aku mulai jatuh hati padanya.
Setiap kata yang diucapkannya seperti mengandung
sihir. Dua tahun dia mengencaniku lewat obrolan dalam jaringan, tak pernah
sedikit pun aku menaruh hati padanya. Tapi, kali ini, pertama kalinya dia
berbicara, menyampaikan kata-kata yang dibungkusnya dengan amat sangat rapi dan
menenangkan. Itu lah sesungguhnya yang kukategorikan manis. Bukan rayuan
gombal, bukan kata sayang yang diumbar secara frontal.
Sial, aku terjatuh, hanya karena kata-kata, dan
matanya, yang amat manis dan lembut.
Dan jatuh kepadanya adalah kesialan yang paling
kusesali.
Komentar
Posting Komentar